Maulana memohon perlindungan dan keselamatan agar kita terhindar dari sifat serta niat buruk ketika menyampaikan ilmu dan berdakwah, yaitu melalui dua hal di bawah ini:
1. Riya (Kesombongan)
Perasaan bahwa dirinya yang berdiri sebagai penceramah, khatib, atau guru lebih mulia daripada para pendengarnya. Ia merasa lebih baik dari mereka. Padahal, seharusnya ia merasa paling bodoh dan hina di hadapan Allah. Sebagaimana dikatakan oleh Sidy Muhammad bin Nasir Ad-Dir’i:
وَلَيْسَ مِنَّا فِي الْوُجُودِ أَحْقَرُ - وَلَا لِمَا عِنْدَكَ مِنَّا أَفْقَرُ
"Tidak ada di dalam wujud ini yang lebih hina dariku, dan tidak ada yang lebih butuh terhadap karunia serta rahmat-Mu melebihi diriku."
Adapun segala apa yang ia miliki semuanya adalah karunia dan nikmat Allah yang tidak seharusnya digunakan untuk kemaksiatan melalui kesombongan terhadap makhluk Allah lainnya.
2. Ingin Tenar (Syuhrah)
Keinginan untuk terkenal seharusnya dikubur dalam-dalam di tanah khumul (tersembunyi dan tidak ingin terkenal), agar hawa nafsunya tidak semakin liar dan mampu untuk dikendalikan. Benih yang tidak tertutup rapat oleh tanah tidak akan pernah tumbuh dengan sempurna, atau bahkan tidak tumbuh sama sekali karena dimakan burung atau ayam yang lewat.
Hal ini sebagaimana sabda Baginda Nabi SAW:
مَنْ قَامَ بِخُطْبَةٍ لَا يَلْتَمِسُ بِهَا إِلَّا رِيَاءً وَسُمْعَةً, أَوْقَفَهُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ يَوْمَ الْقِيَامَةِ, مَوْقِفَ رِيَاءٍ وَسُمْعَةٍ.
"Barang siapa yang menyampaikan khutbahnya dengan niat mencari kesombongan dan ketenaran, maka Allah akan menempatkannya di posisi kesombongan dan ketenaran pada hari kiamat (di mana ia dipermalukan di hadapan semua makhluk bahwa dirinya bukanlah orang yang ikhlas dalam menyampaikan ayat-ayat Allah dan sunah Baginda Nabi SAW)."
Wallahu Ta’ala A’lam.
Ditulis oleh: Ust. Antony Oktavian, Lc., M.A.










Posting Komentar